Misteri Ulak Lisuk : Kisah Acun Anak Manusia yang Menjadi Penjaga Sungai Kapuas

Sebarkan:

                      Foto lubang Acun

SEKADAU LENSAPAGI - Kalimantan Barat tidak hanya kaya akan pesona alamnya yang memukau, tetapi juga menyimpan segudang warisan sastra tutur dan legenda yang sarat pesan moral.

Salah satu cerita rakyat yang melegenda di kalangan masyarakat Dayak Ketungau Tesaek Desa Bokak Sebumbun adalah kisah tentang "Lubang Acun", sebuah pusaran air atau ulak legendaris di tepian Sungai Kapuas yang menyimpan cerita mistis tentang hilangnya seorang anak manusia.

       Foto sungai kapuas ulak lisuk yang dihuni Acun

Dahulu kala, jauh sebelum Kampung Merapi ada, di tepi Ulak Lisuk hanya ada beberapa rumah. Salah satunya adalah rumah milik Telak.

Telak beserta istri dan kedua anaknya hidup seperti orang Dayak pada umumnya. Mereka berladang dan menyimpan padi di jurung. Jurung adalah lumbung padi yang tinggi, tiangnya terbuat dari kayu belian, atapnya dari kayu yang dibelah tipis. Namanya atap lapis. Di bawahnya biasa dipakai untuk menunggu jemuran padi.

Kala itu musim panen. Warga tengah sibuk di ladang memanen padi. Panasnya bagus, pas untuk menjemur padi.

Telak dan istrinya mempunyai dua orang anak, Cangkol dan Acun.

Mereka hidup berdampingan dengan warga lainnya. Hidup aman, damai, dan tentram, karena adat dan budaya menjadi acuan utama dalam kehidupan sehari-hari.

Pagi-pagi sekali, istri Telak sudah menggelar tikar di halaman rumah. Padi menguning dihampar. Lalu ia memanggil anak sulungnya.

"Cun, tolong jaga jemuran padi sebentar. Mama mau ke atas masak. Usir ayam kalau datang. Jangan sampai padi habis dimakan ayam."

Anak itu bernama Acun. Umurnya masih di bawah sepuluh tahun. Kulitnya sawo matang, rambutnya agak kemerahan karena sering main di sungai. Dia mengangguk. Duduk di bawah jurung dengan sebatang bambu panjang di tangan.

Acun duduk di bawah jurung sambil bermain kecil. Ayam sesekali datang, diusirnya. Angin Kapuas bertiup pelan, menambah suasana nyaman di sekeliling hutan Lisuk.

Sekilas matanya menangkap bayangan di pinggir Kapuas, dekat jamban, di tempat biasa orang kampung mandi. Ada seorang perempuan turun ke sungai. Tampak dari belakang, memakai kain sarung sebatas dada, rambutnya disanggul. Gerakannya persis ibunya.

Acun berdiri.

"Ma? Mama sudah mandi?"

Perempuan itu tidak menjawab. Ia terus berjalan masuk ke air, pelan-pelan sampai sebatas lutut.

Acun merasa aneh. Tadi ibunya bilang mau masak di atas. Kenapa sekarang sudah di sungai? Tanpa berpikir panjang, karena ingin tahu, Acun pun pergi mengikuti langkah perempuan yang mirip ibunya. Kayu pengusir ayamnya diletakkan. Dia berlari kecil menyusuri jalan setapak menuju tepi Ulak Lisuk.

"Mama! Tunggu!"

Itu terakhir kalinya jejak kaki Acun terlihat di tepi Ulak Lisuk.

Menjelang tengah hari, dari atas rumah, ibunya memanggil.

"Cun! Makan siang! Nasi sudah masak!"

Tidak ada jawaban dari Acun.

Ia memanggil lagi, lebih keras.

"CUN!"

Tetap tidak ada jawaban. Hanya suara angin dan daun-daun yang berjatuhan di sekeliling rumah.

Ibunya turun. Jemuran padi masih di sana, utuh, dengan kayu pengusir ayam yang masih tergeletak. Tapi Acun tidak ada.

Ibunya mulai cemas. Ia lari ke sungai, memanggil nama Acun sepanjang pinggiran sungai. Tidak ada.

Satu kampung kecil itu gempar dalam hitungan menit. Para lelaki yang baru pulang dari ladang langsung melepas parang, membantu mencari, menyusuri semak belukar. Laki-perempuan memukul gong. Tung! Tung! Tung! Suaranya dipukul bertalu-talu, bukan untuk gawai, tapi untuk memanggil orang hilang. Konon, kalau orang hilang masih di sekitar hutan, dia akan mendengar suara gong dan mengikuti suaranya pulang.

Tapi sore itu, hutan hanya memantulkan suara gong itu kembali. Suara burung-burung aneh bermunculan seakan turut bersedih, karena Acun tak kunjung ditemukan.

Mereka mencari sampai malam. Obor terbuat dari getah damar dinyalakan. Sampai ke ulak dan hutan belantara lain. Namun jejak kaki anak sulung itu tidak ada sama sekali. Seolah tanah menelannya, atau arus membawanya.

Telak dan istrinya terduduk di bawah jurung, menangis pilu. Menatap padi jemurannya yang tadi siang dijaga anak sulung mereka.

Malam itu, para tetua kampung berkumpul di rumah Telak. Mereka tahu ini bukan hilang biasa. Anak hilang di dekat ulak, tanpa jejak.

"Ini pasti ada makhluk tak kasat mata yang menyembunyikan cucuku," gaum kakek Acun.

Annyau, seorang kakek sakti sekaligus Tumenggung Adat Dayak Ketungau Tesaek kala itu, memutuskan ritual adat untuk memanggil kembali roh yang tersesat.

Lampu damar dinyalakan. Tikar dihampar. Kemenyan dibakar. Mantra dibacakan dalam bahasa Ketungau tua. Suara gong dan gendang turut mengiringi tarian mistis di atas tikar. Semalam suntuk, ritual berlangsung. Asap kemenyan naik bercampur dengan mantra.

Malam itu, di dalam lelap yang tidak nyenyak karena tangis bercampur pilu, orang tua Acun bermimpi.

Dalam mimpinya, dia tidak melihat hutan. Ia melihat air, jernih tapi dalam sekali. Di dasarnya ada sebuah kerajaan alam gaib. Dan di sana, Acun berdiri. Tapi dia tidak sendiri. Di sampingnya ada sosok besar, seperti manusia, duduk di singgasana megah, bermahkotakan emas dan permata. Dialah penghuni Ulak Lisuk.

Suara itu berkata dalam mimpi orang tua Acun,

"Jangan cari Acun lagi. Acun tidak hilang dan tidak mati. Acun sudah bersama kami. Kami ambil dia untuk dijadikan anak kami serta menduduki kerajaan alam kami. Dia sudah kami pilih untuk menjaga Ulak Lisuk ini. Jangan tangisi dia. Besok pagi turunlah kamu semua ke lanting. Acun akan muncul di sana, dan meninggalkan seuntai gelang."

Telak terbangun dari mimpinya dengan keringat dingin di sekujur tubuh. Ia pun menceritakan tentang mimpinya kepada semua keluarga yang tengah berkumpul.

Keesokan paginya, sesuatu yang ganjil pun terjadi.

Istri Telak turun ke pinggir sungai. Lanting mereka adalah panggung di tepi sungai, persis di atas Ulak Lisuk.

Di atas papan lanting itu, persis di atas Ulak Lisuk, tergeletak sesuatu yang basah yang sudah tidak asing lagi di mata orang tua kala itu.

Sebuah gelang terbuat dari rotan. Gelang yang kemarin dipakai Acun di pergelangan kaki. Gelang itu masih basah oleh air sungai, tapi utuh.

Dengan tangan gemetar, ibunya mengangkat gelang itu. Dan saat ia menunduk melihat ke bawah, ke dalam air, perlahan muncul seekor buaya seukuran batang kayu. Kulitnya hitam pekat, ekornya tidak ada.

Semua tetua yang turut mencari, pagi itu ikut menyaksikan penampakan itu dan tahu. Itu bukan buaya biasa. Itu Acun.

Tidak ada suara. Hanya bisikan halus Acun masuk ke dalam hati orang tuanya, jelas seperti orang berbicara.

"Saya tidak akan pernah melupakan keturunan saya. Saya sudah menjadi penjaga Sungai Kapuas ini. Saya di sini sekarang."

"Jika nanti ada perkawinan, ada gawai, ada acara apa pun di keluarga kita, kabarkan kepada saya, buanglah sesajen ke sungai. Panggil nama saya Acun, saya pasti datang."

"Dan satu lagi. Jangan pernah mencuci kelambu di Sungai Kapuas. Supaya tidak ada celaka yang datang kepada seluruh keturunan ku."

Setelah itu, buaya hitam pekat itu menyelam pelan. Tidak menimbulkan percikan besar. Hanya riak melingkar yang lama hilangnya. Gelang rotannya ditinggal di atas jamban, sebagai bukti terakhir bahwa Acun pernah menjadi manusia.

Sejak hari itu, Ulak Lisuk punya nama lain di mulut orang Bokak dan Merapi: Lubang Acun.

Dan janji itu dipegang teguh sampai hari ini.

Setiap bulan tujuh, saat musim gawai, saat ada pernikahan, saat ada syukuran, keturunan Acun pasti turun ke sungai. Mereka tidak membawa sesajen mewah. Mereka hanya bebuai (membuang) ke sungai, sebuah ritual sederhana, sambil menyebut nama leluhur.

Bagi orang luar, mungkin terdengar aneh. Tapi bagi kami, inilah leluhur kami, orang Bokak Sebumbun. Tanpa mereka kami tidak ada sampai hari ini.

Ritual tiap tahun adalah cara kami menjaga agar tali persaudaraan tidak putus. Satu menjadi manusia di darat, satu menjadi buaya di air. Tapi tetap bersaudara.

Sampai sekarang, kalau kamu lewat Ulak Lisuk dengan perahu ketinting atau sampan, dan sampanmu tiba-tiba tidak mau bergerak, jangan takut. Jangan lempar batu.

Cukup sapa saja pelan: "Acun."

Dia masih di sana, sebagai penjaga pusaran air Ulak Lisuk.

Berdasarkan mimpi dari keturunannya, Acun sudah memiliki anak, yang satu bernama Ratu Kudung penunggu Ulak Ulu Engkedang, Silawari penunggu Ulak Parik, dan Bujang Juanagg penunggu Lisuk Muda Penyeladi Sangau.

Acun bukan binatang jadi-jadian. Dia punya silsilah. Punya darah manusia.

Ceritanya masih diingat tetua Bokak sampai hari ini. Acun bersaudara dengan Cangkol. Dari Cangkol lahirlah Cice. Cice melahirkan Kederi dan Jakung. Kederi melahirkan Kutal, Aton, Sahar, Sejirah, dan Kumala. Dari merekalah keturunan Acun menyebar sampai hari ini.

Penulis cerita : Kalistus Wosono.

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini