KALAU BUKAN MEREKA, SIAPA LAGI? Detik-Detik Pemadaman Karhutla di Belitang Hilir.

Sebarkan:

Personil Koramil 1204-14/Belitang Hilir, 2 Personil BKO, Yon TP 538/PTA dan 1 orang Warga. 

BELITANG HILIR - Rabu, 16 September 2026. Langit Desa Menawai Tekam, Kecamatan Belitang Hilir, tidak biru. Asap tipis mulai membubung dari sebuah lahan.

Di monitor Koramil 1204-14/Belitang Hilir, satu titik merah menyala: HOTSPOT.

Bagi orang lain, itu mungkin hanya titik di peta. Bagi mereka, itu adalah panggilan. 

Tanpa menunggu lama, empat orang bergerak. Bukan pasukan besar. Hanya 1 personel Koramil 1204-14/Belitang Hilir, 2 personel BKO Yon TP 538/PTA, dan 1 orang warga. Warga yang mungkin sawahnya berada tepat di sebelah lahan itu

Dengannya peralatan seadanya, mereka berjibaku. Panas kemarau menusuk kulit, asap membuat mata perih dan napas sesak. Mereka terus menyiram, memukul api dengan ranting, dan menginjak bara yang masih menyala.

Luasnya hanya 0,5 hektare. Kecil di atas kertas. Namun jika dibiarkan, dalam hitungan jam, angin kemarau bisa mengubahnya menjadi 5 hektare, 10 hektare, bahkan merambat ke permukiman dan kebun karet warga.

Mereka paham itu. Karena itu, mereka tidak berhenti.

Hingga akhirnya, api berhasil dipadamkan. Hamparan lahan yang menghitam menjadi saksi bisu perjuangan mereka.

Plh. Danramil 1204-14/Belitang Hilir, Serma Meldiansyah, berkata pelan:
"Setelah api berhasil dipadamkan, kami tetap melakukan pemantauan dan patroli di sekitar lokasi untuk memastikan kondisi benar-benar aman."
Kalimat sederhana. Namun di baliknya ada sebuah janji: selama mereka ada, desa ini tidak akan sendirian melawan api.

Mereka tidak langsung pulang. Mereka tetap di sana, berpatroli, memastikan tidak ada lagi bara yang bangkit dan tidak ada lagi api yang diam-diam menyala di balik semak.

Inilah cerita dari Menawai Tekam. Bukan tentang 0,5 hektare yang terbakar, melainkan tentang 4 orang yang menyelamatkan ratusan hektare harapan warga Belitang Hilir.

Karena di musim kemarau ini, pahlawan tidak selalu datang dengan suara sirene. Kadang mereka datang dengan sepatu boot yang kotor lumpur, baju yang basah oleh keringat, dan hati yang tidak rela melihat kampungnya terbakar.

Editor: lensa pagi

(Wosono)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini