SEKADAU, LENSAPAGI NEWS.COM - Sabtu pagi di Desa Lembah Beringin seharusnya tenang. Tapi pada Sabtu, 12 September 2026, ketenangan itu pecah.
Pukul 08.00 WIB, alat pemantau mendeteksi satu titik panas. Kecil, hanya 0,4 hektare. Namun bagi warga Nanga Mahap yang pernah sesak karena kabut asap, angka sekecil apapun adalah ancaman besar.
Motor trail meraung membelah jalan tanah berdebu. Personel Koramil 1204-18/Nanga Mahap membawa selang, sekop, dan alat pemadam seadanya. Mereka tahu, terlambat 30 menit, 0,4 hektare bisa menjadi 4 hektare.
Sesampainya di lokasi, api menjilat semak belukar. Asap putih naik pelan. Tanpa banyak bicara, mereka langsung menyiram lidah api yang meluas di antara daun-daun kering.
Satu jam berjibaku. Memastikan setiap bara benar-benar mati. Tersisa hanya tanah hitam yang basah dan bau sangit yang menggantung di udara.
Di tengah lahan yang baru padam, Plh Danramil Serma Ardi berdiri. Napasnya terengah, disertai cucuran keringat membasahi baju lorengnya.
Cerita di Lembah Beringin bukan sekadar tentang 0,4 hektare yang terbakar. Ini tentang kecepatan. Tentang kepedulian. Tentang seorang Babinsa yang lebih memilih meninggalkan secangkir kopi paginya demi memastikan anak-anak di desanya masih bisa menghirup udara bersih hari ini.
Pagi ini, Lembah Beringin kembali tenang. Kabut tipis yang tersisa bukan lagi asap kebakaran, melainkan embun pagi yang turun pelan di atas bukit.
Dan di antara embun itu, TNI masih berjaga. # (Wosono)
