Penyesalan Di Balik Jeruji Timah Panas Bersarang Di Kaki

Sebarkan:


                             
LENSAPAGI NEWS.COM - Namanya Andi. Bukan nama sebenarnya.

Ia adalah bapak dari seorang anak paling rajin di bengkel itu. Tangannya cekatan, orangnya jujur. Tiap jam 6 pagi, bengkelnya sudah buka. Ia bahkan dikenal mahir merakit motor, makanya bengkelnya tak pernah sepi pelanggan.

Semuanya berubah di satu malam.

Seorang teman lama datang membawa sesuatu yang kecil, bening seperti kristal.

"Coba saja. Biar nggak ngantuk, biar kerja lebih kuat. Gratis kok," bisiknya.

Tanpa berpikir panjang, Andi coba. Sekali saja. Toh gratis.

Malam itu ia tidak tidur. Ia merasa kuat, merasa hebat. Ia lembur sampai subuh dan ia pikir, enak juga.

Padahal, tanpa sadar, itulah mata pancing pertama yang masuk ke mulutnya.

Hari kedua ia mencarinya lagi. Hari ketiga ia mulai membeli. Hari kesepuluh, ia sudah tidak bisa bekerja tanpa barang itu. Gratis memang di awal, candu selamanya.

Dulu yang terpancing hanya rasa penasaran. Sekarang, seluruh hidupnya yang terpancing.

Seperti ikan yang terkena kail. Semakin berontak, semakin dalam lukanya.

Beberapa bulan kemudian, bengkelnya sepi. Motor pelanggan yang dibongkar tak pernah selesai. Suku cadang bagus hilang, ditukar dengan yang bekas. Uang bengkel, bahkan perabot rumah, habis terjual demi membeli sabu.

Jika tak ada uang, istrinya jadi pelampiasan. Anaknya yang baru 4 tahun hanya bisa takut melihat ayahnya dengan mata merah dan pipi cekung.

Andi ingin lepas. Sungguh ingin lepas. Tapi setiap mencoba berhenti, tubuhnya remuk. Tulangnya seperti dipatahkan, kepalanya seperti mau pecah.

Sampai pada suatu malam, telepon berdering. Temannya mengajak ke sebuah kos yang sering dijadikan tempat pesta sabu, dari kalangan atas sampai bawah.

Di sana mereka digerebek polisi. Andi panik, mencoba melawan dan kabur. Aparat terpaksa melumpuhkan kakinya dengan timah panas.

Kini, Andi mendekam di balik jeruji besi.

Di dalam sel yang dingin, ia menangis. Bukan karena malu, tapi karena baru sadar dua tahun hidupnya hilang sia-sia, seperti ikan yang tak bisa lepas dari mata pancing.

Perjuangan Andi belum selesai. Masih panjang. Harus berobat, rehabilitasi, dan yang paling berat: melawan keinginan untuk kembali lagi.

Untuk kalian di luar sana yang pernah ditawari dengan kalimat manis, "Coba sekali saja, gratis..."

Ingatlah cerita Andi.

Sabu itu bukan teman kerja. Sabu itu mata pancing. Sekali nyangkut, akan sangat susah dilepas. Ia akan menarikmu pelan-pelan. Menjauhkanmu dari pekerjaanmu, dari keluargamu, dari masa depanmu. Hingga yang tersisa hanya tulang dan penyesalan.

Penulis: Wosono

Catatan Redaksi: Nama dalam cerita ini disamarkan. Kisah ini diangkat sebagai edukasi akan bahaya penyalahgunaan narkotika. Jika Anda atau orang terdekat membutuhkan bantuan, hubungi layanan rehabilitasi BNN 184..

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini