Raksasa Buatan Manusia Tertidur di Padang Pasir Kapuas

Sebarkan:

               Ponton membawa ribuan ton kernil sawit  

Orang Sekadau menyebutnya Sungai Kapuas. Nadi kehidupan, jalan tol air, tempat mandi, mencari ikan, dan mengantar barang sejak zaman nenek moyang.

Sejak pertengahan Juni, Juli, Agustus, hingga 15 September 2026 ini, Kapuas berubah wajah.

Di Kampung Sungai Raya, Desa Tanjung, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, airnya hilang. Yang tersisa hanya hamparan pasir cokelat membentang sejauh mata memandang, seperti gurun. Dan di tengah gurun itu, ada raksasa yang tertidur.

Sebuah ponton. Lambungnya berkarat, terpal hijaunya berkibar pelan. Ia tidak tenggelam, ia kelelahan. Ia membawa ribuan ton kernel sawit dari Sejiram, hendak menuju Tayan. Tapi sungai tidak memberinya jalan.

Sudah sebulan ia di sana. Terikat dengan tali seadanya, dijaga oleh beberapa ABK yang duduk di bawah bayang-bayang lambung kapal, menunggu hujan yang tak kunjung turun.

Anehnya, kesedihan itu mengundang tawa.

Sore hari, warga datang. Bukan untuk menolong, karena tak ada yang bisa menolong sungai. Mereka datang menggelar tikar. Anak-anak berlarian di pasir yang dulunya adalah dasar sungai. Ibu-ibu berswafoto dengan latar belakang kapal raksasa yang terdampar. Bapak-bapak nongkrong di atas pasir sambil melihat matahari terbenam.

Kapal yang seharusnya membawa hasil bumi, kini jadi monumen.

Monumen yang mengingatkan kita bahwa bahkan Sungai Kapuas, yang terpanjang di Indonesia, pun bisa kehausan. Bahwa rantai pasok, harga sawit, dan nasib petani di hulu sana ternyata tergantung pada satu hal yang sering kita lupa: air.

Dan tongkang itu akan tetap di sana, kandas, sampai Kapuas memutuskan untuk kembali mengalir.

(Wosono) 


Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini